---
Aku Theodore, seorang pendaki yang akhirnya menepati janji lamaku: berdiri di puncak gunung yang dulu hanya ada dalam bayangan. Saat kakiku benar-benar menapak di titik tertinggi itu, aku terdiam lama. Angin dingin yang menerpa wajahku seolah berbisik, “Inilah saatnya.” Pandanganku menyapu luas ke arah langit yang biru, awan yang menari pelan, dan bumi yang jauh di bawah. Di momen itu, aku tahu, aku telah berhasil menaklukkan bukan hanya gunung, tapi juga keraguan dalam diriku sendiri.
Dulu, setiap mimpi tentang puncak selalu ditemani bayangan seseorang. Dia yang kupikir akan berdiri di sisiku, menggenggam tanganku ketika semua impian ini tercapai. Tapi waktu berjalan, komunikasi pudar, dan kami berubah menjadi asing. Awalnya terasa berat, seakan puncak kehilangan makna tanpa kehadirannya. Namun ketika langkah demi langkah akhirnya membawaku sampai di atas sini, aku justru menemukan ketenangan yang berbeda. Aku ikhlas. Aku bahagia bukan karena dia ada, tapi karena aku menepati janji pada diriku sendiri.
Gunung mengajarkanku sesuatu yang indah: bahwa ada pendakian yang memang harus dilalui sendirian. Dan meski aku sempat berharap dia akan menemaniku, kini aku mengerti, tak semua orang ditakdirkan untuk hadir di puncak cerita kita.
Awalnya aku merencanakan pendakian besar pada bulan Desember 2025, antara tanggal 10 atau 29. Itu bukan tanggal sembarangan—10 adalah ulang tahunku, dan 29 adalah ulang tahunnya, seseorang yang dulu begitu penting bagiku. Aku ingin menjadikan puncak sebagai perayaan sederhana untuk janji yang pernah kubuat dengan nya, sekaligus mengenang kenangan yang kini hanya tersisa dalam diam.
Namun takdir berkata lain. Pada 13 Agustus, aku bertemu dengan seorang teman baru yang kemudian mengubah rencanaku. Sebut saja dia R. Dia tipe orang yang blak-blakan, ceplas-ceplos, tapi justru dari sanalah aku merasa ada ketulusan yang nyata. Tanpa basa-basi panjang, dia langsung mengajakku untuk mendaki pada tanggal 17 Agustus, sekaligus merayakan upacara kemerdekaan negara tercinta di puncak. Ajakan itu begitu tiba-tiba, hanya menyisakan tiga hari untuk kami menyiapkan segalanya: packing alat, logistik, hingga perlengkapan pendakian.
Dan entah kebetulan atau memang takdir, hari itu—13 Agustus—bertepatan dengan ulang tahun wanita yang kini kuibaratkan sebagai bunga edelweis, sosok yang indah, langka, dan begitu berarti bagiku. Di hari itu pula, aku sebenarnya ingin mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Namun lidahku kelu, keberanian tak juga muncul. Aku hanya menyimpan ucapan itu dalam hati, membiarkannya tenggelam bersama rasa yang tak sempat terucap. Bahkan sebelum melakukan perjalanan dari basecamp ke cadas, sempat terlintas niatku untuk mengungkapkan perasaan itu padanya. Tapi sekali lagi, keraguan mengikat langkah, membuatku memilih diam, dan membiarkan perasaan itu tetap menjadi rahasia.
Pada hari yang sama pula, masalahku dengan wanita lain yang kuibaratkan sebagai mawar akhirnya selesai. Seakan semesta memberi tanda: satu cerita ditutup dengan ikhlas, sementara di sisi lain, harapan baru perlahan dibuka.
Jumat, tanggal 15 Agustus, kami memulai perjalanan dari Pekanbaru menuju Solok. Kami berangkat pukul 3 lewat, menyusuri jalanan panjang hingga akhirnya tiba di Payakumbuh. Malam itu kami memutuskan transit, menyewa tenda di campground Lembah Harau. Di bawah tebing-tebing megah yang menjulang, aku merasakan suasana hangat perjalanan baru ini. Esok paginya, perjalanan dilanjutkan menuju Solok. Orang tuaku yang harmonis mengantar kami, sebuah kebersamaan yang kuharap akan lebih lama dari selamanya.
Tepat pukul 13.40, kami tiba di basecamp Gunung Talang via Bukit Bulek. Setelah makan siang dan melakukan pendaftaran, kami mulai menapaki jalur pendakian. Pukul 14.05 langkah kaki kami resmi meninggalkan basecamp, menembus jalur yang hijau dan sejuk. Kami mengincar sunset di cadas, sehingga tak ingin terlalu lama beristirahat. Beberapa pos dan shelter kami lewati begitu saja hingga akhirnya tiba di shelter 3, di mana kami bertemu dengan dua pendaki lain, sebut saja A dan D. Sambil ngos-ngosan kami berbincang cukup lama, lalu bersama-sama melanjutkan perjalanan. Hanya lima belas menit setelah shelter 3, tibalah kami di cadas.
Di sana, kami dibuat terkesima: keramaian manusia yang mendirikan tenda, bercampur dengan pemandangan alam yang begitu memukau. Setelah sempat bingung mencari lokasi, akhirnya kami menemukan spot yang pas untuk mendirikan tenda. Saat senja turun, kami memasak makanan sederhana untuk bekal malam. Karena air menipis, aku sempat berjalan ke water point sekitar 10 menit jauhnya. Hari sudah mulai gelap, aku bergegas kembali, lalu bergabung dengan mereka. Kami menghabiskan malam dengan cerita ringan sambil menyeruput kopi hangat, hingga akhirnya terlelap di dalam tenda.
Pukul 3 dini hari, 17 Agustus, kami bangun. Sarapan singkat lalu langsung melanjutkan pendakian menuju puncak. Dari cadas ke puncak jalurnya jauh lebih ekstrem dibanding sebelumnya. Butuh waktu lebih dari dua jam hingga akhirnya kami tiba di atas. Pemandangan yang tersaji sungguh membuat dada bergetar: hutan mati yang misterius, kawah belerang, danau kembar, serta sabana yang terbentang luas. Setelah berfoto dan menikmati suasana, kami memasak kopi dan minuman hangat lainnya, sebelum kembali turun ke cadas.
Siang itu, semua pendaki berkumpul melaksanakan upacara bendera kemerdekaan Indonesia yang ke-80. Sebuah momen sakral yang membuatku merinding—berdiri di ketinggian, mengibarkan merah putih, seolah benar-benar memeluk negeri dari langit.
Waktu berjalan cepat. Aku dan R harus segera turun karena orang tuaku sudah menunggu di basecamp. Dalam kondisi terburu-buru, kami memasak lauk seadanya: nugget dan saus sambal. Cemilan asin habis, mie instan belum sempat dimasak. Dalam keisengan, kami bahkan sempat menambahkan cokelat sebagai lauk. Baru satu suapan, seorang pendaki dari tenda depan mendekat, tertawa kecil sambil berkata bahwa kami kurang waras memakan nasi dengan cokelat. Dia lalu menawarkan mie instan hangat yang wangi, menggoda siapa pun yang mencium aromanya. Kami menerimanya dengan malu-malu, lalu tertawa bersama mendengar candaan itu.
Setelah makan, kami membereskan perlengkapan, membongkar tenda, dan bersiap turun. Jalur menurun kami lewati dengan cepat. Begitu tiba di basecamp, orang tuaku sudah menunggu. Kami langsung berangkat pulang ke Pekanbaru. Di perjalanan, aku dan R tertidur pulas, terbuai rasa lelah bercampur bahagia. Tengah malam kami tiba di rumah, dan perjalanan itu resmi menjadi kenangan indah yang tak akan pernah kulupakan.
Hati ini justru memilih yang berbeda. Bukan mawar yang ramai dipuji karena kecantikannya , karena dibalik keindahan mawar ada duri yang bisa melukai diri, tapi bunga edelweis—indah, langka, dan hanya bisa ditemukan di ketinggian. Edelweis tidak semua orang tahu cara menemukannya, apalagi merawatnya. Dia bukan bunga yang bisa dimiliki sembarang orang, karena untuk menyentuhnya, harus ada ketulusan, kesabaran, dan perjalanan panjang. Dan bagiku, dialah yang kucari. Bukan sekadar karena sulit didapat, tapi karena keindahannya sederhana, abadi, dan lahir dari ketulusan.
Aku ingin bersama seseorang yang seperti edelweis—yang hadir bukan karena semua orang memujanya, tapi karena dia benar-benar tumbuh di tempat yang sunyi, menjaga maknanya sendiri. Dia tidak butuh pengakuan banyak orang, cukup satu hati yang mengerti. Dan aku memilihnya, karena hanya dengan melihatnya, aku merasa perjalanan panjang ini akhirnya menemukan arti.
Kini aku tahu, gunung bukan hanya tentang puncak. Ia tentang perjalanan, tentang kehilangan, tentang ikhlas, dan akhirnya tentang menemukan. Aku tidak lagi menunggu seseorang yang dulu selalu hadir di mimpi, karena kini aku percaya, ada yang lebih tulus menanti di perjalanan berikutnya.
Gunung-gunung akan selalu memanggilku, tapi kali ini aku sudah tidak lagi mencari bayangan. Aku mencari kenyataan—seseorang yang seperti edelweis, indah meski tak semua orang bisa menemukannya. Dan bila saatnya tiba, aku ingin mendaki bukan hanya untuk mengejar puncak, tapi untuk merawat bunga langka itu dengan seluruh hati.
Namun ada hal yang tak pernah kuceritakan pada siapa pun. Hari itu—13 Agustus, bertepatan dengan ulang tahun perempuan yang kuibaratkan sebagai bunga edelweis-aku bahkan tidak berani sekadar mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Bukan karena lupa, melainkan karena terlalu banyak keraguan yang bersemayam dalam hati.
Bahkan sebelum perjalanan dari basecamp menuju cadas, aku sempat berniat untuk mengungkapkan isi hati kepadanya. Ingin jujur, ingin confess, ingin berkata bahwa dialah bunga langka yang kucari selama ini. Namun lagi-lagi, langkahku terhenti. Keraguan lebih kuat daripada keberanian, dan aku memilih diam. Diam yang pada akhirnya menjadi penyesalan kecil di tengah perjalanan besar ini.
—Theodore.
Komentar
Posting Komentar